Di tepian hamparan hutan gambut Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, suara angin yang melewati rumpun purun menjadi saksi kehidupan puluhan keluarga petani. Di daerah yang rentan terbakar dan sering dianggap tidak produktif ini, purun justru tumbuh subur dan menjadi tumpuan ekonomi warga. Namun, tanpa dukungan yang tepat, potensi besar tanaman liar bernilai tinggi itu masih jauh dari optimal.
Purun: Tanaman Liar yang Menjadi Penopang Ekonomi
Purun (Lepironia articulata) bagi masyarakat lokal bukan sekadar tanaman rawa. Bahan baku kerajinan itu telah menjadi sumber penghasilan utama, terutama bagi keluarga petani yang hidup di sekitar hutan gambut.
Setiap pagi, para petani berjalan menyusuri lahan gambut yang lembab untuk memanen purun muda yang siap diproses. Satu ikat purun mungkin terlihat sederhana, tetapi di tangan perempuan-perempuan pengrajin, bahan itu bisa berubah menjadi produk bernilai seperti tikar, tas, sampai sedotan ramah lingkungan yang kini semakin populer.
Tantangan di Lapangan: Akses, Pasar, dan Keberlanjutan
Meski memiliki potensi yang besar, para petani dan pengrajin menghadapi sejumlah hambatan:
-
Minimnya akses pasar langsung, membuat harga purun mentah sering tidak stabil.
-
Kurangnya pelatihan pengolahan, sehingga produk jadi memiliki nilai jual terbatas.
-
Kondisi lahan gambut yang rentan terbakar, membuat keberlanjutan produksi bergantung pada kondisi cuaca.
-
Keterbatasan alat dan teknologi sederhana, terutama dalam proses pengeringan dan pewarnaan.
“Kami ingin hasil purun dihargai lebih baik. Selama ini masih banyak tengkulak yang menentukan harga,” ujar Ibu Lani, salah satu pengrajin purun di Tayan Hilir.
Inisiatif Pemberdayaan: Dari Pelatihan hingga Akses Pasar
Sejumlah organisasi anak muda dan komunitas lokal mulai turun tangan memberikan pelatihan, pendampingan, hingga membuka jejaring pemasaran.
Kalimantan Muda Indonesia (KMI) menjadi salah satu pihak yang mendorong pemberdayaan berkelanjutan. Melalui program pendampingan kerajinan berbasis purun, KMI:
-
Mengadakan workshop anyaman dan inovasi produk,
-
Membantu standarisasi kualitas,
-
Menghubungkan pengrajin dengan pelaku usaha UMKM,
-
Serta melibatkan pengrajin dalam pameran ekonomi kreatif.
Pendekatan itu bukan hanya meningkatkan pendapatan petani dan pengrajin, tetapi juga memperkuat posisi purun sebagai komoditas unggulan ramah lingkungan.
Ekonomi Hijau yang Bertumpu pada Kearifan Lokal
Purun tumbuh secara alami tanpa perlu pupuk atau pestisida, sehingga sangat relevan dengan konsep ekonomi hijau yang kini diarusutamakan. Pemanfaatan purun juga membantu menjaga lahan gambut tetap lembap dan terhindar dari kebakaran—sebuah manfaat ekologis yang sering kali tidak diperhitungkan.
“Ketika permintaan purun meningkat, masyarakat punya alasan untuk menjaga lahan gambut alih-alih membakarnya,” kata Arif Pratama, pegiat lingkungan yang terlibat dalam riset pemanfaatan purun.
Masa Depan Purun: Dari Desa ke Pasar Global
Dengan meningkatnya minat terhadap produk eco–friendly di pasar nasional dan internasional, purun berpotensi besar menjadi komoditas masa depan. Produk seperti sedotan purun, tas rotan-purun, hingga dekorasi rumah kini banyak dicari.
Namun, untuk mencapai pasar lebih luas, diperlukan:
-
Sistem produksi yang konsisten,
-
Sertifikasi ramah lingkungan,
-
Branding yang kuat,
-
Serta model pemberdayaan berkelanjutan yang melibatkan generasi muda.
Pemberdayaan petani purun di Tayan Hilir bukan hanya tentang meningkatkan ekonomi masyarakat desa, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem gambut dan melestarikan tradisi kerajinan lokal.
Dengan kolaborasi antara komunitas, organisasi pemuda, pemerintah daerah, dan pelaku usaha, purun dapat menjadi simbol kebangkitan ekonomi hijau Kalimantan Barat — dimulai dari rumpun sederhana yang tumbuh di lahan gambut Tayan Hilir.




